since I'm officially a full-time domestic engineer (happy mode) or to cut it short - I'm jobless (a-bit-down mode ), it gives me a lot of twists and a blend of mixed feelings. happy - i enjoy it, freedom- oh, for heaven's sake, i enjoy it too, a bit too much, perhaps. boredom - oh, it comes unpredictably, alternating between a period of excitement and the realization that know i have nothing in my tiny little pocket. ok, make it simple - I'm broke
yes, I'm broke (sigh) but I'm at home, it's such an advantage since i got full access to internet and I tried to catch up (not so hard) to whatever in heaven's name happened in Malaysia.
lets start with the 1st leg Australasia tour cancellation. wow, a lot of noises. a lot of interferes. everyone wants to speak up his mind.
mind saya sangat brilliant, dengarlah alasan dan hujah-hujah saya, minda mereka berkata.
well, i don't know about it, how true it is, I'm not mind-reader neither got anything to do with smart reader :P
kalau semua nak bercakap, siapa pulak yang nak mendengar?
sayang, we all know even it's not totally true but at least Malaysia is trying her best to show the world that she is a Muslim country. respect la sikit. no no, i understand Miss Badu can accept the cancellation, i know she a bit upset but she at least learned something about the sensitivity and don't play play with it :)
one can name it anything - beauty of art, the art of fashion, the travel and living (ok, this one is mengarut) but this one - "Art is often misunderstood in the realm of religion." is a total crap. have u ever heard that art is for those who has high appreciation in nature and sensitive to his surrounding? nope? ok, i made it up.
Britannica Online defines art
as "the use of skill and imagination in the creation of aesthetic
objects, environments, or experiences that can be shared with others." - can be shared with others, that's the keyword. if one can't share it due to it's nature that clearly against the culture and one's faith, it's best for one not to pull the trigger.
there are lots of comments, critics regarding the above issues. orang yang kena boleh terima, yang lain tak ada kena-mengena pulak yang terlebih bicara. don't do that people. please look for the reason behind it before getting too excited in condemning others :)
i love certain comments, in my opinion they are sensible and not letting their emotion get the best of them. cool mak cik, pak cik. insya Allah tak ada apa-apa setakat tak pi ke Miss Badu's concert ^_^ :
'I don't remember anybody forcing Ms Badu to tattoo the name of Allah
on her body. Nice to see a celebrity made aware of the consequences of
using people's symbols of faith as fashion items.' - by music lover. i like this one. comment pilihan minggu ini :)
'Eryka Badu should focus on her ability to
resolve. As someone who is interested in performing abroad she should
have a higher level of sensitivity and awareness. Even as performers, we
as black people should work to both understand and respect different
cultures. As someone living and working in the Middle East, tattoos of
any nature are normally not welcomed! Do research, learn about the
regions you intend to travel to and make a greater effort to move
forward with a greater sense of global awareness.' by Carole Faye - this too is my favorite :)
'I would suggest that Jabatan Agama Islam in Malaysia should check all
foreigners coming to Malaysia to not only be stripped naked for tattoos, all
females checked that their virginity are still intact, all females
coming unaccompanied by male relatives or husband should not be allowed
into Malaysia. Or else our Malaysian Malays (females especially) will
immediately and without the power to think for themselves imitate those
foreigners and that would not be good for Malaysia and Muslims as a
whole. As the Malays Muslims are easily led astray and weak minded ...' - come on, this one is sarcastic. please, don't overdo it. apabila anda terlalu emo ketika typing, u will do lots of typing errors yang terpaksa dibetulkan before I can post my blog entry ^_^
and this comment will answer the above one,
'This is a matter of religion. I think we should leave it to that. It is offensive to all Muslims.
I
am not so sure about your thought, but I do recalled few years back
that Christians condemn madonna for dressing like a nun and for some
artist to use cross during their concert.
Just leave it to Muslims to decide whether it is offensive.' - by Bru Tall
and the comments go on and on sampai semua yang emo berpuas hati dengan amukan mereka. it's classic evidence on how globalization affects the world in every region, in every country, in a bad way. well, everything has side-effect. atas nama globalisasi semua benda mudah untuk diterima, tanpa kadang seseorang itu sedar yang mereka adalah orang timur yang kaya adat, budi bahasa dan beragama.
babe, i can guarantee you that most of the comments came from Malaysian people who think there are western people trapped in easterner's body. that's why they rebel loudly. too loudly till at one point, we just miss their points ^_^ (just like the transsexual issue, u know; a girl trapped in boy's body, that's why they undergo sex reassignment surgery)
nowadays in Malaysia, i am almost producing high-pitch whining noise every here and there every single time i have to deal with people.
I'm not a spoil brat. but as a customer, as a consumer, as a buyer, as a user and as a client i could tell that the customer service in Malaysia is not at a level that should be proud of.
be it in government of private sectors.
buka kedai . franchise . makan gaji .
lets take a look at a few examples:
first, when a person enters a restaurant what would happen to him? does he get nice greeting , is someone politely handing over the menu and patiently waiting for the customer, choosing their meals?
sudah tentulah semua orang suka pada layanan yang baik, tak kira sama ada dia seorang yang baik budi atau tidak. itu bukan masalah tapi bermasalah andai yang melayan dan mengambil pesanan , tidak pandai mengambil hati as well.
adakah semua orang terlupa rule no 1 in business? - customer's always right and no.2 always remember rule no.1
oh no oh no, sekiranya anda seorang yang membuka business makanan, tak perlulah anda menyediakan red carpet dan segala macam mak nenek service ala-ala Alvear Palace. tapi cukup dengan slogan budi bahasa budaya kita.
apa itu budi bahasa budaya kita?
cakap dengan sopan
senyum memanjang
selalu jadi pendengar yang baik dengan pesanan yang pelanggan pilih
beralah pada customer yang kurang sabar dan kurang budi pekerti
say the magic words , thank you and sorry , frequently and regularly
sibuk, penat bukannya alasan. kalau tak larat berhenti sahaja. ini negara democratic. no one gets shot because he wants to quit his job.
kalau malas mahu berlatih bertatih menjaga public relation, silakan beralih ke bidang yang tidak memerlukan banyak interpersonal communication. semua benda ada solution. jangan marahkan nyamuk kelambu dibakar. jangan kerana sebenarnya tak nak kerja tapi terpaksa kerja kerana mak suruh atau tengah kumpul duit nak beli benda, main redah pilih kerja apa tapi tak sesuai hati, kemudian akhirnya pelanggan yang jadi mangsa.
pernah dengar kalau menjaga anak buah dalam PR kena jaga macam mak menjaga anak. emak yang baik akan kenal baik buruk perangai anaknya dan akan segera menegur. bukan backing pekerja yang terang-terang kurang prihatin akan isu customer service.
kedai makan, kedai baju, kedai telefon, kedai buku, pejabat kerajaan, kerja swasta --> semua berusaha mencari rezeki walaupun tak suka dengan pekerjaan tapi tidak berbudi bahasa bukanlah budaya kita, orang timur.
kerja adalah ibadah, semua sibuk nak negara Islam, negara kebajikan tapi untuk melaluinya seorang pandai pernah berkata, negara itu baik bukan dengan kuasa tapi dengan akhlak dan tingkahlaku. vote sahaja tidak akan menentukan hala tuju sesuatu negara, tapi jatuh bangun negara itu akan ditentukan dari sikap rakyatnya.
bersikaplah dengan sikap seorang muslim yang sebenar. tiada apa yang nak dimalukan dengan sikap baik dan mengikut al Quran sunnah. dapat pahala, itu matlamat sebenar setiap amal kerana kalau nak bercakap tentang rezeki semua dah ditulis dan malaikat mikail sudah ada untuk bertugas. we just do our job, we never know when we're going to stop
-12.00 2-hour waiting had come to an end. make another appointment – next time
-12.30 walking back (tertinggal beg dengan kawan), no money no public transport
-15.30 took bus, to usrah -evening = injured (tapi dalam hati), someone unintentionally telah terlaserà fractura hepatica (patah hati) :)
Day 2:
-7.00 to lab
-9.00 to lecture hall
-9.30 met the dentist (the lecture was postponed)
-10.10 another lecture
-11.00 final lecture for the day
-12.00 owh hoho! Tutorial (not prepared, baru tau time lab paginya)
-13.00 lab again but cancelled later after the blackout
-13.30 looking for the time to replace the session (mengeluh beramai-ramai tentang pretest)
-14.00 going back
-19.00 baru siap keyed in data
mengingat-ingat akan schedule yang penuh.
Kembali mengimbas akan rasa sakit di hati. ‘mulut orang, kadang-kadang terlebih laju dari akal,’ dia cuba sedaya upaya meyakinkan dalam hati. Sungguh mungkin tak disengajakan. Tak mau mengulang kembali apa ynag telah terjadi petang itu. Pedihnya masih tersisa.
Mendongak memandang langit yang mendung dan sarat menunggu masa untuk menjatuhkan titis titis air ke bumi. Cuba belajar untuk faham, menerima rasa hati dan mencari ketenangan. Itu suratan bukan kebetulan.
Rupa-rupanya rencana Allah itu indah. Belum pun ujian datang, Dia telah turunkan penawar. Mujur.Sangat-sangat. Tuhan memberikan kekuatan atas setiap dugaan.Buat dia sedar, itu adalah ujian.Bahagian untuknya. Sama ada mau redha atau menyambung kecewa.
‘tiada yang malang atau beruntung dalam hidup, dear. It’s a mind over the matter. If one doesn’t mind, then it doesn’t matter.’ Itu bait kata yang sempat menerjah ke telinganya sewaktu pengajian minggu lepas.‘setiap ujian yang datang adalah daripada Allah, sabar atas kesusahan mendapat pahala, bersyukur atas nikmat dan kesenangan juga beroleh pahala.’
Sabar...sesuatu yang dia cuba gapai dan harap tak kan hilang.
‘bertuah ke tak tu hanya menurut pandangan seseorang. Dengan akal yang terhad kita sebagai manusia berangan untuk menilai dunia yang luas ciptaan Nya. cuba menghitung –hitung apa yang Dia beri. Entahkan apa yang dinilai yang sebatas akal itu benar atau tidak, tak siapa tahu. Apa yang disangka tentang untung nasib itu hanya mainan perasaan saja. Manusia sekadar bersangka-sangka akan perjalanan hidupnya. Terkadang kecewa menghimpit bila semuanya tak seperti yang diharap, bila nikmat kembali diambil atau lupa daratan lantas mendepang dada mengaku berkuasa apabila terhasil segala usaha.’
Dan dia tidak mahu bersangka yang bukan-bukan dengan Tuhan nya yang telah menciptakan. Perlu belajar mencari hikmah atas setiap kejadian.
‘manusia menjadi lebih parah apabila perhitungan dipandu nafsu. Seringkali timbulnya perbandingan antara dua kehidupan. Siapa yang lebih pandai, cantik, bertuah, beruntung. Semua yang membawa tawa dan gembira. Kesenangan bagi yang dipuji. Siapa yang kurang dari semua segi dilabel sebagai gagal. Tak bertuah. siapa manusia untuk mengadili ketetapan Allah atas setiap garis suratan kehidupan? ’
cuba bertanya diri soalan yang sama. Semoga sedar akan hakikat sebagai hamba. Yang dijadikan hanya untuk 2 perkara. Sabar dan syukur.
‘manusia mudah lupa. Lupa pada pesanan kekasih Nya.
“Begitu istimewa kehidupan seorang mukmin. Kehidupannya semua baik sahaja. Dan keadaan itu hanya dirasakan oleh orang mukmin. Apabila ia mendapat kesenangan, maka ia bersyukur, dan kesyukuran itu baik baginya. Dan sekiranya ia ditimpa kesusahan, ia bersabar di atas kesusahan itu, maka kesabaran itu baik baginya(Riwayat Imam Muslim)”
Jadi, mana yang malangnya?’
mana? dia menggeleng seorang diri tatkala pesanan dari pengajian petang yang lalu bermain di ingatan. Hujan renyai menitiskan air dan membawa kesegaran petang yang nyaman.
‘Ya, tiada. Sekadar ukuran manusia buat mengukur sebuah duniawi. Sering lupa rezeki ada di tangan Tuhan, setiap orang punya bahagian yang tersendiri. sering lalai bahawa garis hidupnya dengan izin Allah, sering berbangga akan kebolehan diri, sering dengki pada bahagian orang lain dan sering ingkar pada arahan Nya. Meminta redha dari Nya namun berat hati untuk redha akan taqdir dari Nya. Ironic bukan?’
‘ironic bukan?’ tapa sedar ayat itu diulang.
‘maka kerana itu harus seiring. Dalam doa meminta redha dan syurga, berlindung dari amarah Nya dan neraka, juga harus terbit dalam diri akan perasaan redha pada segala taqdir yang tertulis buat manusia. Taqdir itu punya 2 bahagian. Satu yang bernama qadar, satu lagi pula qada. Bicara tentang taqdir harus selalu hati-hati. Jangan beremosi. Memandang taqdir sebagai ketentuan pula perlu dua perkara pokok. Rela dan ikhlas.’
Dia memandang titisan yang semakin laju dan besar.Hujan bawa rahmat ke seluruh alam. Ujian juga rahmat kepada hamba Nya yang beriman. Sabarlah hati...
‘dan godaan dari memandang taqdir Allah dengan rela dan ikhlas adalah nafsu. Membanding bahagian orang dengan bahagian sendiri. Manakan sama kerna semua itu telah Dia perhitungkan dengan sebaiknya. Jangan terdetik ragu pada perancangan Nya. sungguh Dia sebaik-baik perancang.’
‘qada itu ketentuan. Pengikat manusia. Maka tugas manusia adalah untuk patuh pada ketentuan yang telah ditetapkan. Yang jelas perintah diturut, segala larangannya ditinggal jauh. Umpama jalan lurus terbentang di depan mata, andai ada yang sengaja mahu menyusahkan diri mencari jalan lain, itu petanda dia sombong. Allah mahu memudahkan hamba Nya, tidak mahu dibiar sesat, maka dibekalkan panduan. Jika ada yang mahu berpandu selain yang diberi Ilahi, jelas dia mengira dia mampu mencari sendiri jalan tanpa tersesat. Jelas dia berlagak sombong sedang tiada ilmu di tangan.’
Agak kuat bacaannya. Cuba meyakinkan diri supaya tunduk dan patuh, belajar menguasai nafsu setelah sekian lama dikuasai.
‘qadar itu ukuran. Umpama timeline yang telah Allah tetapkan ke atas setiap hamba di setiap peringkat usia. Lahir ke dunia, belajar merangkak, duduk, berjalan, berlari, berbasikal. Itu sudah Allah tetapkan tempoh masanya. Dengannya manusia dapat mengenal dan belajar erti pertumbuhan dan tumbesaran. Mengkaji sebarang ketidak normalan dan mencari penawar bagi memulihkan. jua mendidik kerendahan hati melihat segala keagungan Nya yang Maha Esa. Pelbagai bangsa jua sebuah ketetapan. Bukan untuk berbangga-bangga, tapi sebagai asbab untuk sebuah erti bahagia...’
dia menutup notanya. Hujan hampir berenti, melihat takung-takung air di luar rumah dan rintik-rintik hujan.
Jika alam mampu menerima setiap perubahan cuaca dan masih bisa berzikir memuja Nya, kenapa dia yang telah diberi akal seringkali terlalu cepat melatah pada setiap dugaan dari Nya?
karena maksiat akan membuat nikmat hilang dan lenyap
'Sesungguhnya maksiat itu muncul diakibatkan oleh lemahnya rasa cinta.
Maka kesabaran hamba untuk menahan diri dari perbuatan maksiat itu sangat tergantung pada kekuatan imannya.
Setiap kali imannya kukuh maka kesabarannya pun akan kuat…
dan apabila imannya melemah maka sabarnya pun melemah…
Dan barang siapa yang menyangka bahwa dia akan sanggup meninggalkan pelbagai macam penyimpangan dan perbuatan maksiat tanpa dibekali keimanan yang kukuh maka sungguh dia telah keliru.'
( ‘Asyru Nashaa’ih libnil Qayyim li shabri ‘anil ma’shiyah)
‘Yups madam. No worries, semua dah beres. Semua dah tau nak buat apa. Tunggu akak je kasik barang, everything will be fine, ok?’ dia tersenyum walau tau tiada siapa yang melihat. Suka dia mengusik teman yang beberapa tahun lebih tua darinya dan dipanggil akak itu. Butang merah ditekan sebelum pandangan kembali difokus pada jalur tar di depan. Memerhati setiap papan tanda agar dia tidak terlepas sebarang selekoh. Agar tidak tersesat.
Dia cuba mengingat entah kerana apa tergerak hati untuk mengikuti sambutan ini. Sambutan raya adalah satu yang normal baginya, dirai setiap tahun. Tapi untuk pergi jauh dari teman-teman yang telah lama bersama semenjak tahun pertama dia di situ, bukan suatu kebiasaan. Sangat bersalah mengingatkan betapa dia meninggalkan teman-temannya mempersiapkan juadah sementara dia hanya dapat membantu pada sebelah petang hari raya sahaja.
Kenapa begitu mendesak bagi dirinya untuk pergi jauh dari teman-teman, keluar dari lingkungan yang dia rasakan selesa untuk sesuatu yang dia tak punya sebarang idea akan apa yang berlaku nanti? Kenapa ya begitu cepat sekali dia memutuskan dan memberi persetujuan tatkala borang sudah di tangan? Berusaha mencari contact person dan juga membantu bertanya pada yang lain. Rencana Allah, tak siapa tahu.
Dia menggeleng kepala perlahan. Membiar senyum mekar di bibir. Memang dia begitu, suka membuat keputusan melulu tanpa berfikir panjang. Cumanya, dia mengharapkan keputusan yang dibuat kali ini, bukan suatu yang sia-sia. Semoga ada rahmah dan berkat pada setiap langkah yang dilaluinya.
Mungkin dia juga ingin tahu bagaimana rasanya ‘keluar’. Keluar mencari erti hidup, lebih-lebih lagi di waktu meraikan suatu yang dipanggil ‘festive of sacrifice’. Sedang mahu tahu bagaimana nikmat sebenar sebuah pengorbanan, memencil diri, cuba mencari damai yang abadi dengan menghisab kelemahan diri. Memperingati dosa-dosa silam dan mengharap sebuah kemaafan, pada hari-hari awal bulan dzulhijjah. Pada hari wukuf yang doa dimakbul.
Dia sedar, terlalu selesa membawa padah pada imannya. Semakin jarang menghitung amalan. Ceria bergembira dan bergelak ketawa yang tak terhingga. Maka dia cuba menghidupkan kembali cahaya iman yang selalu sahaja kusam tak bermaya. Mengatur langkah dalam diam supaya dia kembali memikir dan mencari tujuan sebenar hidup ini.
Dan hasil dari pencariannya membawa dia ke daerah ini. Daerah asing yang dia sedikit keliru tentang sebutan namanya. Entah apa. Mengikuti kembara desa dalam memeriahkan sambutan eid bersama penduduk kampung yang kurang mampu.
Ya, sebuah desa yang damai dengan penduduk yang masih gigih menimba air dari telaga buat kegunaan harian, yang masih punya binaan beratap dan berdinding nipah, yang masih punya nilai-nilai traditional. Mungkin itu the best remedies buat mengubat penyakit wahan dalam diri.
Dia tersengih seorang diri. Memang kekok menimba air setiap kali ingin berwuduk. Ditambah keheningan air dari telaga yang dingin sewaktu subuh. Juga betapa beratnya timba penuh air yang harus diangkat dari dasar telaga kemudian dibawa ke kolah buat mengambil wuduk dan membersih diri. Mengingati malam yang kerap kali tidurnya terganggu dek serangan dari semua hala incik nyamuk dan tangan serta kakinya yang penuh dengan bintik-bintik merah pada keesokannya.
Tambahan pula sukarnya berinteraksi dalam bahasa yang berbeza. Yang tak pernah dia gunakan sebelum ini. Dan pada kegelabahan memberi makan kepada haiwan yang bakal menjadi kurban serta cubaannya memegang kambing pertama kali. Dia tersenyum lagi tanpa henti. Mengenang betapa mungkin dia tak pandai merahsia perasaan. Adat di desa, makanan buat menjamu hadirin mungkin tidak mencukupi, semua diajar berbagi namun dia bukan seorang yang boleh dikeyangkan dengan snack.
Perutnya yang lapar berbunyi untuk diisi. ‘will you be fine? You look hungry.’ ‘Impossible. Obvious sangat ke? Is it written here on my forehead?ceih’ dalam senyum sumbing dia berbisik pada temannya disebelah yang juga sedaya upaya cuba menahan tawa setelah mendengar pertanyaan dari pihak consumption. Memang lapar namun dia cuba memujuk diri, menghiburkan hati dengan irama takbir.
Meyakinkan diri, yang paling dia ingini adalah mendengar nama Tuhan nya disebut bagi mengairi jiwa yang tandus. Cuba untuk mengingati bagaimana gembiranya Ibrahim tatkala malaikat yang merubah rupa sebagai manusia datang menguji dengan memuji nama Tuhan. Ibrahim yang mendengar, ingin mendengar lagi dan lagi sehingga sanggup menyerahkan semua kambing-kambing peliharaannya demi mendengarkan lagi nama Tuhan nya disebut dan dipuji.
Mesmerized by the beautiful praisings. Hingga akhirnya malaikat akur, ibrahim ternyata khalilullah. The friend of Allah. Yang sanggup menggadai harta bahkan anaknya demi Tuhan. Itu juga yang dia mahu. Tenggelam dalam keindahan nama Tuhan nya yang telah menciptakan dan memberi kasih sayang kepadanya selama di dunia. Belajar dan mengajar diri untuk berkorban.
Sukar namun indah. Indah untuk diingati dan mengkritik diri. Seindah malam raya melagu takbir yang mempesonakan usai isya’. Juga pada indahnya hujan renyai sewaktu bersolat eid di laman, berlarian usai mendengar khutbah tatkala hujan yang tadinya renyai bertukar rentak. Menghambur titis-titis air dengan meriahnya. Seakan turut sama ingin merai dan mengingati pengorbanan ibrahim dan anaknya. juga setenang mendengar takbir dilaung tatkala haiwan dikurban. Satu hari yang indah. Ya, satu hari mencari cinta...cinta Ilahi. Semua itu rahmat. Semua itu berkat.
Tanpa sedar, dia harus pulang. Mungkin selepas habis urusan penyembelihan. Dia mahu melihat dan menyaksi. Semoga membawa keinsafan dalam diri pada ketaatan ibrahim melaksana arahan dan patuhnya ismail bersama cinta yang mendalam. Tanpa sedar sudah kali yang sekian dia menggelamun di pagi raya. ‘tak nak ambik gambar ke? Ko kalau bab-bab macam ni biasa galak,’ teman mengusik tatkala melihat dia hanya memerhati haiwan kurban di situ dengan tangan kosong.. Dan dia hanya terdiam. Tersenyum cuma. Bukan tak mahu tapi memberi ruang pada haiwan kurban menghadap Ilahi, biar dengan iringan gema takbir bukan kerlipan lampu kamera.
Dia masih di situ. Hanya beberapa inci dari haiwan di sebelahnya. Sebentar lagi, haiwan itu akan dibawa berada bersebelahan lubang khas yang digali buat darah yang menghambur keluar, dibaringkan di atas rusuk kiri, dihadapkan ke kiblat. Dengan nama Allah, selawat dan iringan takbir, pisau tajam di pangkal leher memutus salur pernafasan, salur pencernaan dan salur darah. Dia hanya tersenyum sayu melihat haiwan itu yang seakan degil, tidak mahu melangkah. ‘degil, macam orang yang buat korban jugak,’ hati berbisik nakal. Menggeleng kepala perlahan.
Namun tak lama. Rasa sayu mula melanda, air mata yang bergenang cuba ditahan berlatar suara takbir memuji keagungan Nya. Tatkala darah sembelihan menitis ke bumi, dia turut berdoa dan merayu pada Tuhan dalam titis-titis air yang membasahi bumi agar dosa-dosanya juga turut gugur ke bumi. Semua sekali. Semoga dia dibersihkan dari segala salah dan silap yang terlalu banyak membeban jiwa dan mendera perasaan. Semoga dia ketemu arah tuju yang hilang. Dan mata ini seakan tidak mahu berganjak. Masih setia memerhati haiwan itu disembelih, sehingga darah yang mengalir tidak sebanyak tadi, kemudian setia menemani proses lapahan daging, menyiat kulit dan menjadi bahagian-bahagian kecil.
Terbayang kesenangan menjadi haiwan kurban. Hidup beribadah dan mengingati Nya, akhir hayat dirai dengan laungan takbir memuji Ilahi. Dan manusia biasa sepertinya, masih tak tahu hujung sebuah kehidupan. Terbayang juga sukarnya maut dicabut dari jasad. Tambah-tambah lagi bagaimana keadaan dia yang banyak noda. Semoga matinya juga dalam fitrah suci dan putih. Dalam mengingati dan memuji Allah Sang Pencipta. Ya, mati itu suatu yang pasti.
::bersama merai sebuah cinta yang hakiki...yang hanya ada pada Nya. satu tiada dua::
~commemoration and remembrance 'the festive of sacrifice of the prophet abraham and ishmael...sebuah pengorbanan buat beli cinta suci~
Dia melangkah perlahan-lahan dengan senyuman yang tak lekang. Menuju ke pintu masuk tanpa menoleh lagi ke kiri dan kanan. Tangannya memegang kemas buku-buku dan file yang bertingkat, di bahu kanannya tersandang beg yang selalu diguna setiap kali ke kelas. Sebelah lagi tangan memegang tangkai payung.
‘senyum meleret nampak. Semalam bising, cakap ada pretest.’ Tak mengendah, terus meluru ke bilik, meletak beg di atas kerusi belajar dan buku beserta file di atas meja. Kemudian menuju keluar ke ruang tamu.
‘How was it? Told you, just a pretest. A test with a ‘pre’ at the front part never really a test. Just to evaluate your prior knowledge aje tau.’ temannya menyambung, sambil tangan masih lagi rancak meneruskan kerja-kerja menghidang.
Dia masih lagi tersenyum, tangan laju menekan remote, cuba menghabiskan segera vcd yang dah lama dalam simpanan. Yang bermaksud, kena segera pulangkan kat tuannya. Sudahnya, tak terasa langsung nak meringan tangan menyiap hidangan petang. Hujan di luar pula masih lagi turun dengan lebatnya, tanpa sebarang tanda mahu berhenti.
Merenung kaca tv sambil melepas lelah. Hari yang sibuk, bagi seorang yang malas. Really. 8-10 – class, 11-12.30 – another class, 1-3 – to class again, 4-5 – oh no! Again? malam nanti keluar lagi sambut birthday classmate. Tapi kenapa ya, masih boleh menguntum senyum?
‘wei, lapar.dah boleh makan?’ Lin takat jeling je sebelum geleng kepala. ‘macam bebudak, ingat dah habis kenyang tengok tv. Tu yang asyik senyum je tu.’
‘mana pulak. ni senyum bersebab tau.’ Menjawab sambil menekan butang pause. Kaki melangkah ke dining room, mengangkat dulang berisi roti jala dan semangkuk kuah durian, juga 2 cawan berisi teh hangat ke ruang tamu. Dengan perlahan dulang diletakkan di atas meja kaca sebelum kandungan dalam dulang disusun, untuk dia dan untuk Lin.
Kemudian, tangan kembali menganbil remote sebelum menyambung tontonan, sementara menunggu Lin mengambil sudu dan pinggan kecil juga senduk untuk kuah. ‘ko ape hal senyum tak habis ni?’ Lin yang baru sudah menyenduk kuah durian dan meletak beberapa keping roti jala di dalam pinggan melabuhkan punggung di sebelah. Matanya turut sama ditala ke kaca tv, namun untuk seketika sebelum kembali menagih jawapan.
‘jenn’ jawab dia bersahaja.
‘Your group mate?’membalas dengan soalan.
‘ada lagi ke budak yang nama jenn kat batch kita?’ membalas service, sesi soal-soal tanpa jawapan.
‘kenapa dengan dia?’
‘she made things easier for me, juga dengan izin Nya’
‘dia bagi ko copy dia ek, time pretest?’
‘suka la ko buruk-buruk sangka dekat aku,’
‘habis tu?’
‘She did ask me about Islam,’
‘Good’
‘Definitely, girl,’
‘memang itu pun yang ko tunggu kan,’
‘dah tu tanggungjawab aku, kene sebarkan pada yang tak tau,’
‘You’re right’
‘I’ve been waiting for that moment tau,’
‘aku tau, ko bukannya reti kalau tetiba nak buat direct session introducing Islam to those who don’t know,’
‘tu la pasal, nasib baik ada masa, kalau tak selamanya terbeban, berkawan bagai dah lama, more than 2 years, tapi aku tak ada usaha pun nak menyampaikan,’
‘You just got your chance, hun’
‘Hope that I don’t blow it up, dear’
‘tapi menyampaikan bukan dekat sorang je yang ko rapat, tapi dekat semua.do not miss that point,’
‘Aye aye captain, I’ll try, insya Allah.’ Kembali merenung kaca tv di depan.
‘hah, makan la. Apa lagi?’ Lin tak tunggu terus memasukkan secubit roti ke dalam mulut.
Dia takat tersenyum, kembali mengulang apa yang terjadi, dalam memori. Entah macam mana practical session petang tu, turut mengandungi perbualan tentang Islam. Bermula dari amalan confession and communion by the Catholics kemudian protestant, martin Luther, sejarah text book sebelum beralih kepada perkara basic dalam Islam.
‘hey, what’s the difference between imam and iman? Are they the same thing? I often confuse about those terms,’ jenn mengeluh.
Dia takat gelak, dan dan, macam jenn pulak yang selalu guna 2 perkataan tu. Padahal, sejak dia kenal jenn, ini first time dia dengar perkataan tu keluar dari mulut jenn. Terhenti seketika gerakan tangan.
‘Imam is the leader in the community, the one which is leading the congregation, promoting ones to do good deeds and encouraging ones to turn away from the sins. The imam also is the term used for the one who leads the solah in the mosque,’ kerja yang terhenti tadi kembali disambung. Sambil mata merenung sekilas jenn yang masih berfikir.
Ops lupa nak sambung, ‘and iman pulak is what you believe, your faith, right here in your heart,’
jenn mengangguk, hilang muka confused. Tiba-tiba, jenn tersenyum, sambil bertanya, ‘hey, I want to ask some more, can the imam gets married?’ dengan nada-nada gossip girl.
Dia kembali tergelak dan tersenyum panjang. ‘boleh. The imam can get married, like a normal person. Actually anybody is eligible to the title, kalau cukup ilmu dan faham agama,’
‘Ooh, like the Protestants. The reverends/ pastors are allowed to get married too. Ermm, does it mean that he can have physical contact with his wife?’
‘Hurm, again?’ dia pulak yang bertanya, sebelum menyambung gelak dan membalas, ‘ha-ha, cut the crap la jenn. Sejak bila pakai ayat berlapis ni. Did the question suppose to be; can he have any sexual intercourse with his wife?’
jenn tergelak, ‘I just want to sound polite,’ membela diri.
'sopan santun di jalan raya la sangat, nasib baik I could understand your question. Yes, he can have that; can start a family, having children. Again, he is a normal person jenn. He supposes to show a good role model to his community. But then, if he is not allowed to have his own family and leaves like a normal person, how on earth that he will be able to show others how to raise the kids and what kind of family and parenting institution that a Moslem should have?’
‘Hurmm, true,’ jenn mengiyakan siap mengangguk kepala lagi.
Dia menambah, ‘we don’t want a leader in the community that says a thing then does another thing. Nanti orang cakap, dia bolehla takat suruh orang kawin and having children, tapi bukan dia pun yang rasa susah payah jaga anak,’
‘yeah, you’re rite,’ kemudian jenn menyambung, ‘I know one thing for sure about your religion, if ones did pray 5 times per day, fasting when the fasting month is coming, do good like avoiding premarital sex, clubbing and alcohol, they are good Moslems then’
‘True. But those are the basic things that one must do. No exclusion dear. No matter how bad you are, you still have to pray and fast, when the time comes, those aren’t optional but are obligations as Moslems.’
‘Owh, I thought when you do those things; you would be more pious than others. But that is it. If you don’t do them, then it’s up to you,’ jenn mengerut kening.
‘Yups, u do become more pious than others but those who miss the chance to complete their obligations, they can’t simply walk away and keep their hands clean. There’s a sin to bear for each of the obligation you missed.’
‘oh, in your religion, if you want to be in heaven then you have to be a Moslem, rite? Then, what happens to those non Moslems?’ jenn buat muka wondering.
Okeh, dia ambil masa sebelum memulakan. ‘if one dies without believing of Allah as his one and only God, then all of his good deeds wont be taken into account. Sebab percaya pada Allah adalah yang paling asas dalam islam. Then, if you have no good deeds, how in heaven’s name you’re going to enter heaven? Since heaven is the place where all the people with good deeds are belonged to’
‘So where are they heading?’
‘They have no other option but to hell, becoming the hell dwellers, forever.’
‘Do all the Moslems directly go to heaven?’ jenn menambah soalan.
‘Sooner or later, they all will go to heaven, but it depends on their deeds in this world. If the good deeds outweighs the bad deeds, they will be shown the way to heaven, but if vice versa, then they will be punished first in hell for certain period of time, as if you did commit crime, therefore you are sent to prison, tapi prison yang ni sangat sengsara, tau,’
‘So, they won’t have chances to ask their God regarding their wrongdoings? Nak buat rayuan ke?’
‘when they soon realized that their pace will be in hell, they would definitely terrified. Begging for their life back even for 1 second. But, it’s too late. By the time they reach the hellfire, the guardian there will ask them a question, ‘didn’t come to you any of the God’s messengers, reminding you the true way of life?’
‘Ouch!’ jenn membuat reaksi seram campur terasa.
Dia bertambah-tambah seram, orang cakap, yang paling banyak cakap la yang paling akan diuji. Semoga dia istiqamah selalu dan diberkati.
‘the dwellers there will keep on begging and pleading for freedom from the hellfire but unfortunate, nothing can be done to bring them back into this world, they are going to live there forever,’ peringatan buat diri sendiri yang paling terutama.
‘Ops, you did talk about the basic in Islam, what’s that?’ jenn mengubah soalan.
'5 pillars of Islam,’ dia jawab, sambil tangan mempercepat gerakan, ingin segera menghabiskan lukisan.
‘Oh, is there such a thing? Tell me then,’ jen menyambung perbualan yang tergendala kerana pertanyaan seorang teman yang lain tentang lukisan petang itu.
‘1st: one must believe that no God but Allah and Muhammad is the messenger of Allah, its called syahadah.’ Dia menerangkan dengan ilmu yang tak seberapa.
‘That’s the most important aspect. Believe in one God, no other than Him. If a person believes that there’s a Power which is equivalent or stronger than Him, that kind of belief will cancel out his syahadah. Termasuklah percaya dekat penilik nasib, pi dekat kubur bawak makanan and stuff. The keywords here are oneness of Allah and the finality of the prophethood of Muhammad’
‘eh, you guys cant do those things? But it seems like a lot of Moslems still performing those kinds of rituals and believing in those supernatural bomoh thingy.’ Ouch! Tak tau nak balas apa, sekadar tersenyum mendengar jenn bercakap sendiri dan menjungkit kening sebelum bertanya rukun islam yang kedua. ‘Then, the 2nd one?’
‘5-time praying, dear’ dia menjawab sambil tangan menyelak halaman seterusnya buku manual. ‘Solah is the pillar of religion. Like those tubular metals used in construction to support the structure of the building project. The 1st and foremost issue to be scrutinized on the doomsday is solah, if the deep foundation is concrete, then everything will be ok.’
Jenn turut menyelak buku, tapi sempat menjawab, ‘owh, no wonder you mentioned that praying is the basic thing,’ berhenti sebelum meneruskan, ‘then, how do you know when is the time? And the direction as well?’
‘facing the kaabah. That’s the direction. And for the time, it depends on the position of the sun.At dawn, mid-day, late-afternoon, sunset and nightfall,’ Dia menjawab ringkas, berharap apa yang disampaikan adalah yang sebenar tentang Islam.
‘Then how you guys are going to pray, let say during the exam, traveling or in some other conditions where you are really unable to fulfill the obligations?’ bertanya sambil memadam sedikit bahagian dari lukisannya, untuk dikemaskini bagi hasil akhir.
‘You can pray outside the exam hall, no need to walk to the mosque or praying room nearby. Anywhere that’s clean. And if it’s really impossible, you can gather 2 solah in a time, let say when you’re traveling’ Cuba untuk menerangkan walau bukan penerang yang baik.
‘Hrrrmm... Then, the 3rd one?’
‘Zakat, giving away certain amount of money to the poor and for those in need,’
‘The 4th one?’
‘Fasting in the holy month of Ramadan, from dawn until sundown,’
‘The 5th?’
‘Perform hajj in makkah,’
‘Oowh, is it a place where long time ago, your prophet helped in deciding the fair way to put the black stone in its place? The one mentioned in the sejarah text book?’
‘Yups, you’re right. Clever!’ dia tersenyum sambil melakukan touch-up yang terakhir lukisannya sebelum menghantar pada instructor. Jenn turut melakukan hal yang sama, terasa tak sabar untuk pulang setelah seharian di faculty.
‘Then the tabung haji thingy?’ jenn masih mahu bertanya, dan dia akan sedaya yang mungkin cuba menerangkan. Sungguh dia risau jika salah penerangan.
‘It’s where your savings go. Like a normal bank. At the same time, it works as a pilgrim’s fund board. Some banks run an auto-deduction service. They deduct the money from your saving account for zakat payment.’
‘Hey, that’s great. Then you no need to worry when it’s time to pay,’ jen tersenyum sambil menutup buku dan mengemaskan alat tulisnya yang berselerak memenuhi meja.
Dia turut bersiap-sedia untuk pulang. ‘Do you know, I also have to give away certain amount of money each month. Ermm, it will be much better if they can simply deduct from my account, and then I won’t miss it each time,’
sebelum menyerah hasil akhir dan berlalu pulang pada petang itu, dia sempat berkata kepada jenn, ‘jenn, you want to know something? If a person reverts to Islam, he’s like a newborn baby, free from all of his past sins or mistakes,’
'Wahh, really? Hey, that’s great.' nampak terkejut dan tak percaya.
'But then, can a person intentionally stop from becoming a Moslem then convert to other religion and then revert to Islam, for the sake of being free from his past sins since you said that once a person reverts, he’s free from all sins?’
‘Nope nope, big capital letters NO for you,’ Dia membalas, tersenyum sambil menuju ke pintu keluar. Jenn mengikut dari belakang.
Sama-sama menaiki bus pulang, sebelum turun dari bus, jenn sempat bergurau, ‘he he, I guess after this, I can teach others about the pillars of Islam since I mastered it already, may be I can remember them better than some of the Moslems,’ dia tersenyum melangkah perlahan ke arah rumah.
Dia masih di dalam kenderaan yang bergerak perlahan, meneruskan perjalanan pulang. Berdoa semoga hari yang dinanti akan tiba di mana pintu hati sahabatnya akan terbuka untuk menerima Islam sebagai jalan hidup.
Tersedar dari lamunan, piring Lin dah hampir licin. Dia mula mencubit roti ke dalam mulut. Dalam hati berdoa semoga Allah memuliakan dirinya dengan Islam, buat selamanya.